Mengapa Nabi Musa Mencar Ilmu Kepada Nabi Khidir?

Thabathaba’i sependapat dengan Al-Biqa’i yang menulis bahwa, berdasarkan pandangan Abu al-Hasan al-Harrali, kata ‘inda dalam bahasa Arab ialah menyangkut sesuatu yang terang dan tampak, sedang kata ladun untuk sesuatu yang tidak tampak. Dengan demikian, yang dimaksud dengan rahmat oleh ayat di atas ialah “Apa yang tampak dari kerahmatan hamba Allah yang saleh itu,” sedang yang dimaksud dengan ilmu  adalah “Ilmu batin yang tersembunyi, yang niscaya hal tersebut ialah milik dan berada di sisi Allah semata-mata.” 

Pakar-pakar tasawuf menamai ilmu yang berdasar mukasyafah (tersingkapnya sesuatu melalui cahaya kalbu) menamainya dengan ilmu ladunniyy. Hamba Allah yang tekun dalam pengolahan jiwa dengan memperindah lahiriahnya dengan ibadah, sambil menjauhi etika buruk, dan menghiasi diri dengan etika luhur serta bersungguh-sungguh mengasah potensi-potensi ruhaniahnya yang diistilahkan oleh al-Biqã’i dengan potensi hissiyah, khayaliyyah, dan wahmiyyah, ia akan meraih potensi ‘aqliyyah yang sangat jernih lagi sangat kuat.

Dalam ayat ini, Allah swt juga menyebutkan bahwa Khidir itu ialah orang yang mendapat ilmu eksklusif dari Allah. Ilmu itu tidak diberikan kepada Nabi Musa, sebagaimana juga Allah telah menganugerahkan ilmu kepada Nabi Musa yang tidak diberikan kepada Khidir.



Menurut Hujjatul Islam al-Gazali, bahwa pada garis besarnya, ada dua cara bagi seseorang untuk mendapat ilmu: 1. Proses pengajaran dari manusia, disebut at-ta‘lim al-insani, yang dibagi lagi menjadi dua, yaitu; a. Belajar kepada orang lain (di luar dirinya). b. Belajar sendiri dengan memakai kemampuan nalar pikiran. 2. Pengajaran yang eksklusif diberikan Allah kepada seseorang yang disebut at-ta‘lim ar-rabbani, yang dibagi menjadi dua juga, yaitu; a. Diberikan dengan cara wahyu, yang ilmunya disebut: ‘ilm al-anbiya' (ilmu para nabi) dan ini khusus untuk para nabi. b. Diberikan dengan cara inspirasi yang ilmunya disebut ‘ilm ladunni (ilmu dari sisi Tuhan). ‘Ilm ladunn ini diperoleh dengan cara eksklusif dari Tuhan tanpa perantara. Kejadiannya sanggup diumpamakan menyerupai sinar dari suatu lampu mistik yang eksklusif mengenai hati yang suci bersih, kosong lagi lembut. Ilham ini merupakan pelengkap yang diberikan Allah kepada para kekasih-Nya (para wali).


Wallahu A'lam


Sumber : Tafsir Al-Mishbah



Comments

Popular posts from this blog

Kisah Pembantu Fir’Aun Yang Makamnya Harum

Kumpulan Doa Nabi Ibrahim

Tiga Cara Semoga Ilmu Bermanfaat