Shalat Jama’Ah Pertama Kali Yang Dilakukan Nabi

Penulis sejarah setuju bahwa Sayyidah Khadijah binti Khuwailid rah. yakni orang pertama yang memercayai kenabian Muhammad saw. serta mempelajari cara berwudhu dan shalat. Kesepakatan lain yakni bahwa Sayyidina Ali bin Abu Thalib yang berada dalam asuhan Nabi Muhammad saw. merupakan anak lelaki pertama yang memeluk Islam, berwudhu, dan shalat di belakang Nabi Muhammad saw. Jika Sayyidina Ali anak lelaki pertama, maka Sayyidah Fathimah Az-Zahra yakni anak wanita pertama yang memeluk Islam, mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat.

Pelaksanaan shalat yang terdiri dari takbir, ruku’, sujud dan tasyahud, bersama-sama yakni perbuatan yang tidak dikenal bangsa Arab dan bangsa lainnya. Seorang lelaki berjulukan Yahya bin Afif, sahabatnya Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah saw.), melukiskan dikala pertama kali dalam hidupnya menyaksikan shalat umat Islam.

Suatu hari, Yahya bin Afif mengunjungi Ka’bah untuk bertawaf, sebagaimana biasa dilakukan bangsa Arab jahiliyah. Di sana, ia menyaksikan Rasulullah saw. tengah mengimami shalat bersama Sayyidah Khadijah binti Khuwailid dan Sayyidina Ali bin Abu Thalib(waktu itu, Sayyidina Ali masih kecil dengan usia kira-kira delapan atau sembilan tahun).

Yahya bin Afif bercerita, “Pada masa jahiliyah, saya pergi ke Ka’bah dan singgah di kediaman Abbas bin Abdul Muthalib. Ketika matahari terbit dan menggelantung di langit, saya memandangi Ka’bah. Saat itulah seorang lelaki muda datang. Ia juga menatap langit, kemudian menghadap Ka’bah. Tak usang kemudian, datanglah seorang anak kecil yang pribadi bangun di sebelah kanan orang pertama tadi. Kemudian menyusul seorang wanita tiba dan bangun di belakang keduanya. Ketika lelaki pertama itu ruku’, anak kecil dan wanita itu pun mengikutinya. Kemudian, lelaki muda itu bangun lagi, kedua orang yang di belakangnya juga berdiri. Lelaki muda itu merendahkan badannya bersujud yang segera diikuti keduanya.”



Menyaksikan itu, Yahya bin Afif merasa heran. Ia pun bertanya kepada Abbas bin Abdul Muthalib yang dikala itu bangun di sampingnya, “Wahai Abbas, apa itu? Apa yang dilakukan orang-orang itu? Terasakah oleh engkau bahwa itu merupakan sesuau yan agung?”.

Abbas bin Abdul Muthalib yang waktu itu belum memeluk agama Islam menjawab, “Benar, itu niscaya sesuatu yang agung”.

Abbas kemudian menunjuk keponakannya (Nabi Muhammad saw.) seraya berkta, “Tahukah engkau, siapa orang itu?”. Yahya menjawab, “Tidak, siapa dia?”. Abbas meneruskan, “Ia yakni keponakanku. Menurut ceritanya kepadaku, Tuhan Pencipta langit dan bumi yang memerintahkannya melaksanakan semua itu. Demi Tuhan, yang saya ketahui hanya ketiga orang tersebut yang memeluk agama itu di seluruh muka bumi. Tentu saja, merupakan sebuah keberanian untuk melaksanakan perbuatan itu di depan mata manusia”.


Wallahu A’lam

Sumber : Ensiklopedia Al-Qur’an

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Pembantu Fir’Aun Yang Makamnya Harum

Kumpulan Doa Nabi Ibrahim

Tiga Cara Semoga Ilmu Bermanfaat